SARANG LEBAH DAN KEAJAIBAN AL QUR’AN (bagian 1)



SARANG LEBAH DAN KEAJAIBAN AL‑QUR’AN
Abd Al‑Mun’im AI‑Hefni(*)

(*) Guru besar masalah lebah dan serangga Fakultas Pertanian, Universitas Al-Azhar, Mesir dan Fakultas Observasi Lingkungan Pertanian daerah kering, Universitas King Abdul Aziz, Kerajaan Saudi Arabia.

Ayat‑ayat tentang lebah dalam Al‑Qur'an Al‑Karim tidak lain adalah ren­tetan petunjuk tentang keajaiban ilmiah. Mukjizat Al‑Qur'an masih terus dikisahkan dan ilmu dari waktu ke waktu menyingkapkan kepada kita tentang berbagai mukjizat tersebut. Maha benar Allah dengan firman-Nya:
                                                                                                                                                                         
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tentang bukti‑bukti kebesaran kami dan dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa sesungguhnya Al‑Qur'an adalah kebenaran."(QS 41:53)
                                         
Kami telah menurunkan kitab kepadamu yang menjadi penjelasan terhadap segala sesuatu, rahmat dan kabar gcmbira untuk umat Islam" (QS 16:89).

Fakta dan ayat‑ayat ini betul‑betul diyakini oleh para pendahulu kita dan ilmu menyingkapkan kepada kita salah satu segi keajaiban ilahi dan keajaiban Al‑Qur'an dalam ayat‑ayat ini. Auf bin Malik bin Abi Auf al‑Asyja`i r.a. telah beriman dengan Al‑Qur'an Al‑Karim dan dengan semua yang dibawanya. Diriwayatkan, bahwa ketika pada suatu waktu ia sakit kepadanya ditanyakan, apakah ia akan dirawat, Ia menjawab:

"Beri saya air karena Allah telah berfirman: "Dan kami telah menurunkan air yang banyak manfaatnya dari langit ...... “(QS 50:9). Beri saya madu karena Allah SWT telah berfirman: "…Di dalamnya terdapat kesembuhan untuk manusia…” (QS 16:69).

Kemudian ia mengatakan supaya diberi minyak zaitun karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

"Dari pohon zaitun yang banyak manfaatnya.” (QS 24:35)

Semua permintaannya ini lalu dikabulkan. Ia mencampurkan semua itu dan meminumnya, lalu ia sembuh. Di dalam Al‑Qur'an Al‑Karim yang oleh banyak orang dipelihara dalam dada, di samping yang ada di depan kita sekarang, banyak terdapat kebaikan.

Barangkali permulaan. yang lebih baik adalah dengan memulai pembicaraan tentang tempat tinggal atau sarang lebah. Allah SWT menyebutkan tentang lebah dalam. Al‑Qur'an Al‑Karim:

"Kami memberitakan kepada lebah supaya kamu. mengambil tempat tinggal dari bukit, dari pohon dan dari apa yang mereka bangun." (QS 16:68).

Dalam kehidupan dan tempat tinggal jenis lebah secara umum dan lebah madu secara khusus terdapat bukti yang paling agung atas kemampuan dan keluasan ilmu Allah SWT melalui keajaiban ilmiah yang dikemukakannya dalam Al‑Qur'an Al‑Karim.

Berbagai saintis telah mengkaji kehidupan tingkah laku dan tempat lebah madu. Di antara mereka adalah Butler (1954), Snodgrass (1956), Wafa (1963), Root (1974), Abd al‑Lathif dan Abu an‑Naja (1974), Perusahaan penerbitan Dadant (1975), Crane (1975,1977,1980,1990), Crane dan Graham (1985), al‑Hamashi (1979), Morse (1980), al‑Bambi (1989), Abd as‑Salam (1990) dan al‑Hefni (1994).

Sedangkan mengenai jenis‑jenis lain dari lebah yang bukan penghasil madu, yaitu jenis‑jenis yang suka menyendiri atau semi mengelompok, maka kecenderungan. yang ada sekarang adalah untuk mempelajari dan mengetahui informasi lebih banyak lagi tentang hal ini. Sejarah fisika dan kebiasaan membuat sarang dari lebah yang suka menyendiri telah menarik perhatian banyak peneliti bidang ilmu kehidupan serangga. Di antara mereka adalah Fabrc (1879‑1907) dan Rcaumur (1942). Sedangkan keeenderungan dalam sejarah ilmu hayat ini telah sampai ke tingkat atas dalam pengkajian‑pengkajian yang dilakukan oleh Malyshev (1936). Juga banyak sains yang telah mempelajari tingkah laku membuat sarang lebah penyendiri antara lain seperti yang dilakukan oleh Linsley (1952‑1955), Hobs (1956), Linsley (1958), Linsley dan Hurd (1959), Krombein (1967), Mazed (1967), Elbery (1968), Stephenel (1969), Allam (1972), al-Hefni (1974), Miehenes (1974) dan al‑Badawi (1976). Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan taufik kepada kita dan kepada semua orang untuk melakukan penelitian lanjut dalam bidang ini sehingga mukjizat (keajaiban) ilmiah dalam AlQur'an dan As‑Sunnah dapat dicakup seluas mungkin.

kebagian kedua >---
Previous
Next Post »

Yuk berkomentar sehat dan membangun! ConversionConversion EmoticonEmoticon